#footer-column-container { clear:both; } .footer-column { padding: 10px; } .quickedit{ display:none; }

ONLINE-UJIAN SENI BUDAYA ESTIB

Minggu, 23 Oktober 2011

Tembikar Life Of Pagerjurang Bayat Klaten


Diterbitkan oleh kristinabudiati at 11:55 under Budaya Edit

Bayat Klaten, yang terletak di Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, 30 km Tenggara dari kota berpenduduk padat Yogjakarta di Pulau Jawa, di mana 6.500 orang tewas dan lebih dari 1 juta orang kehilangan rumah mereka setelah gempa bumi Mei 2006 yang diukur 6,2 pada skala Richter, memiliki citra pusat tembikar yang ramai. About eighty percent families especially mothers in this hamlet involved in the ceramics making to earn a living. Sekitar delapan puluh persen keluarga terutama ibu-ibu di dusun ini yang terlibat dalam pembuatan keramik untuk mencari nafkah.

Berdasarkan sejarah, gerabah di Melikan (Bayat) telah dikembangkan untuk sekitar 600 tahun yang lalu. In the grave of Sunan Padang Aran, there is “Gentong Sinaga” in the gate complex of Prabuyeksa, the last gate of Sunan Padang Aran's Grave. Gentong Sinaga functioned as the container of wudlu water for Sunan Padang Aran and his companions when the time for prayers comes. Di makam Sunan Padang Aran, ada "Gentong Sinaga" di pintu gerbang kompleks Prabuyeksa, gerbang terakhir Sunan Padang Aran's Grave. Gentong Sinaga berfungsi sebagai wadah air untuk wudlu Sunan Padang Aran dan teman-temannya ketika waktu untuk doa datang.

Sunan Padang Aran's (Bayat) Grave was built in 1955 Saka. Sunan Padang Aran's (Bayat) Makam ini dibangun pada tahun 1955 Saka. It was found in the Panemut gate on which there was writing or ancient inscriptions written: “Wisaya hanata wisiking ratu” (in the north). Saat itu ditemukan di pintu gerbang Panemut yang ada tulisan atau prasasti kuno tertulis: "Wisaya hanata wisiking ratu" (di utara). The Sangkakala shows the construction year which means: Wisaya : 5, Hanata : 5 ,Wisik : 5, Ratu : 1. The sangkakala menunjukkan tahun pembangunan yang berarti: Wisaya: 5, Hanata: 5, Wisik: 5, Ratu: 1. This means that the grave was built in 1555 saka. Ini berarti bahwa kuburan dibangun pada tahun 1555 saka. In the south of the gate, it was written: “I ta 1555 masa 4” meaning that it was also saka year. Di selatan gerbang, itu tertulis: "Aku ta 1555 masa 4" berarti bahwa itu juga saka tahun. (M. Dwi,2005 : 8). (M. Dwi, 2005: 8).

According to local community, word “Bayat” is derived from Javanese (tembayatan) which means a mutual assistance. Menurut masyarakat setempat, kata "Bayat" berasal dari Jawa (tembayatan) yang berarti saling membantu. Therefore, all big problems will be solved as long as all citizen work together to solve the problems. Oleh karena itu, semua masalah besar akan dapat diselesaikan selama semua warga bekerja sama untuk memecahkan masalah.

Melikan community states that in the beginning of the earthenware craft, the first earthenware created was a jug, a container for water usually carried by Sunan Padang Aran Bayat as supply in his journey disseminating Islam as far as Melikan (Bayat) Klaten village. Komunitas Melikan menyatakan bahwa pada awal dari kerajinan tembikar, tanah liat pertama diciptakan adalah sebuah kendi, wadah air biasanya dilakukan oleh Sunan Padang Aran Bayat sebagai persediaan dalam perjalanannya menyebarkan Islam sejauh Melikan (Bayat) Klaten desa. Besides, Melikan jug was also used as the means of death ceremony/ritual, where it is put on the grave. Selain itu, Melikan kendi juga digunakan sebagai sarana upacara kematian / ritual, di mana ia diletakkan di atas kuburan. Based on the local belief, the water in the jug can be used as supply by the dead person if he is thirsty in the tomb. Berdasarkan kepercayaan setempat, air di dalam kendi dapat digunakan sebagai persediaan oleh orang yang meninggal jika ia haus di dalam kubur.

Unlike the ordinary ceramics making using flat potter's wheel, the Pagerjurang craftswomen use a unique device with special technique. Tidak seperti pembuatan keramik biasa menggunakan roda potter datar, yang Pagerjurang craftswomen menggunakan perangkat unik dengan teknik khusus. They use a slanted potter's wheel called perbot in local languages with sideway twisting technique. Mereka menggunakan roda tembikar miring disebut perbot dalam bahasa lokal dengan teknik memutar menyamping. The device is made of wood or thin stones as talenan (thin and flat wood on which vegetables are cut) having 40 cm diameter and 6 cm thickness. Perangkat ini terbuat dari kayu atau batu sebagai talenan tipis (tipis dan rata sayuran kayu yang dipotong) memiliki diameter 40 cm dan 6 cm ketebalan. Talenan is put at an angle of 45 degree from the center of the turning axle. Talenan diletakkan pada sudut 45 derajat dari pusat as roda yang berputar. Then, the axle is tied with a strong silk-cotton tree rope connected to a bamboo as the support. Kemudian, as roda diikat dengan kuat pohon kapas sutra-tali terhubung ke bambu sebagai dukungan. Then, the rope is moved by legs in the forward kick direction. It rotates three times faster than ordinary pottery wheels because of the earth gravity. Kemudian, tali digerakkan oleh kaki di tendang ke depan arah. It berputar tiga kali lebih cepat daripada roda tembikar biasa karena gravitasi bumi. The downside is the unique wheel cannot be used to create large objects. Sisi buruknya adalah roda unik tidak dapat digunakan untuk membuat objek yang besar. The product has maximum height of 30 centimeters. Produk memiliki ketinggian maksimum 30 cm.

According to local belief, the technique arrived in Pagerjurang because the influence of Moslem cleric Sunan Bayat who spread Islamic teachings in the area in the 17th century. Menurut kepercayaan lokal, teknik tiba di Pagerjurang karena pengaruh ulama Muslim Sunan Bayat yang menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut pada abad ke-17. He, Sunan Bayat requested local villagers to develop a device which enabled craftswomen to sit in a modest way while creating ceramics, without having to sit with their legs spread apart. Dia, Sunan Bayat meminta penduduk setempat untuk mengembangkan perangkat yang memungkinkan craftswomen untuk duduk di jalan sementara yang sederhana membuat keramik, tanpa harus duduk dengan kaki mereka terbuka lebar. Since then, the technique is just like an inheritance which has been passed on from generation to generation. Sejak itu, teknik ini sama seperti sebuah warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

The uniqueness of this Bayat earthenware is worth to be proud of because the slanting turning art is only found in Indonesia. Keunikan dari gerabah Bayat ini patut merasa bangga karena seni berbalik miring hanya ditemukan di Indonesia. In Bayat, this art has already been around since 400 years ago (counted from this century). Dalam Bayat, seni ini telah ada sejak 400 tahun yang lalu (dihitung dari abad ini). It was created slantingly in order to facilitate the craftswomen while working since at that time they wears sarong. Slantingly itu diciptakan untuk memfasilitasi craftswomen sambil bekerja karena pada waktu itu mereka memakai sarung. Earthenware making were mostly dominated by craftswomen while men assisted in the processing of clay and burned the earthenware. Tembikar membuat kebanyakan didominasi oleh craftswomen sedangkan laki-laki membantu dalam pengolahan tanah liat dan membakar gerabah.

This uniqueness makes these earthenwares superior compared to earthenware in other parts of Indonesia. Keunikan ini membuat earthenwares ini lebih unggul dibandingkan dengan gerabah di daerah lain di Indonesia. There are about 30 regions in Indonesia that employ the slanting turning technique. Ada sekitar 30 daerah di Indonesia yang menggunakan teknik berbalik miring. However, nowadays there are only 6 regions keeping this technique in West Java, such as Plered, Cirebon, Parung Jaya, Garut, and two places in Cangkuang where there are only 3 people having this skill in Cangkuang. Namun, sekarang ini hanya ada 6 daerah menjaga teknik ini di Jawa Barat, seperti Plered, Cirebon, Parung Jaya, Garut, dan dua tempat di Cangkuang di mana hanya ada 3 orang yang memiliki keterampilan ini di Cangkuang.

In Bayat, the clay used as the materials is gathered from Jabalkat Mountain which is mixed with kaolin and quartz to make it stronger. Dalam Bayat, tanah liat yang digunakan sebagai bahan-bahan yang dikumpulkan dari Gunung Jabalkat yang dicampur dengan kaolin dan kuarsa untuk membuatnya lebih kuat. Then it is battered until it is ready for process. Maka belur hingga siap untuk proses. Jabalkat Mountain itself consists of two words, Jabal (mountain) and kat (high); therefore, Jabalkat means the high mountain. Gunung Jabalkat itu sendiri terdiri dari dua kata, Jabal (pegunungan) dan kat (tinggi); karena itu, Jabalkat berarti gunung yang tinggi.

Jabalkat Mountain stretches from south to north; at the northern part of lies Gede Mountain. Gunung Jabalkat membentang dari selatan ke utara; di bagian utara terletak Gunung Gede. It has several names; in the east, it is called Cokrokembang Mountain where the grave of Sunan Padang Aran Bayat is located; while in the west, it is called Cakaran Mountain on which there is a grave of Syeh Domba; whereas, in the north, there is the grave of Pangeran Wuragil in Malang Mountain. Kota ini memiliki beberapa nama; di timur, maka disebut Cokrokembang Gunung di mana makam Sunan Padang Aran Bayat terletak sedangkan di sebelah barat, hal itu disebut Gunung Cakaran yang ada makam Syeh Domba; sedangkan, di utara , ada makam Pangeran Wuragil di Malang Mountain.

There are 2 ways of burning the earthenware. Ada 2 cara untuk membakar gerabah. To produce red colored earthenware, it is burned for about 3 hours and should touch the flame directly. Untuk menghasilkan tembikar berwarna merah, itu dibakar selama sekitar 3 jam dan harus menyentuh api secara langsung. On the other hand, to produce shining black colored earthenware (it is more favored due to its attractive color), the burning process takes longer time. Di sisi lain, untuk menghasilkan gerabah berwarna hitam berkilau (akan lebih disukai karena warna yang menarik), proses pembakaran membutuhkan waktu lebih lama. The burning uses munggur leaf (trembesi leaf usually used as goat's foods). Munggur yang terbakar menggunakan daun (daun Trembesi biasanya digunakan sebagai makanan kambing). To get brown color, the burning process uses straw. Untuk mendapatkan warna coklat, proses pembakaran menggunakan jerami.

In the burning process, fire should be kept on certain degree in order that there is no flame that will change earthenware' color into red. Dalam proses pembakaran, api harus dijaga pada tingkat tertentu agar tidak ada nyala api yang akan mengubah gerabah 'warna menjadi merah. It will get the finest color, if the leaves are moist. Ini akan mendapatkan warna yang terbaik, jika daun basah. Ashes from burning process is then collected and applied on the surface of earthenware which are going to be burned (diungkep/closed tightly). Abu dari proses pembakaran kemudian dikumpulkan dan diterapkan pada permukaan gerabah yang akan dibakar (diungkep / ditutup rapat). The purpose is to produce durable and non fragile product during the cooling process and also to keep the heat. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tahan lama dan tidak rapuh produk selama proses pendinginan dan juga untuk menjaga panas.

The arrangement of earthenware which is ready for burning process is by piling them one above another. Susunan gerabah yang siap untuk proses pembakaran adalah dengan menumpuk mereka satu atas lain. The shrinkage of the burned product could reach 2.5 cm. Penyusutan produk yang terbakar bisa mencapai 2,5 cm. Each craftsman is able to produce 50 items having 20 cm height and 25 cm diameter per days. Setiap pengrajin mampu menghasilkan 50 item yang memiliki ketinggian 20 cm dan 25 cm diameter per hari. The coloring process is very natural by applying red soil-bath which is filtered into fine particles used as the natural soil paint. Proses pewarnaan sangat alami dengan menggunakan tanah merah-mandi yang disaring menjadi partikel halus digunakan sebagai cat tanah alami. For the final process, the outer part of earthenware (or any shape) is polished and then burned again. Untuk proses terakhir, bagian luar tembikar (atau bentuk) dipoles dan kemudian dibakar lagi.

Nowadays, ceramics is still produced by Pagerjurang's villagers. Saat ini, keramik masih diproduksi oleh Pagerjurang di desa. The move towards modern, they use not only sideway twisting technique but also develop the common one to shape bigger ceramics. Yang bergerak menuju modern, mereka bukan hanya menggunakan teknik memutar menyamping tetapi juga mengembangkan satu untuk membentuk Common keramik lebih besar. Water jugs and other traditional household appliances is still produced to serve local markets; and the result of ceramics development so-called terracotta ceramics is produced as decorative objects like teapots, bowls, plates, vases and other interior decorations. Guci air dan peralatan rumah tangga tradisional lainnya masih diproduksi untuk melayani pasar lokal dan hasil pembangunan keramik yang disebut keramik terakota diproduksi sebagai benda dekoratif seperti teko, mangkuk, piring, vas dan dekorasi interior lainnya.

The symbolic values of Bayat earthenware/ceramics is the cultural products which cannot be separated from the life influence of the Javanese people. Nilai simbolis Bayat gerabah / keramik adalah produk-produk budaya yang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kehidupan masyarakat Jawa. Purwadi suggests that in the context of Javanese life, there is an old saying: “wong Jawa nggone semu, papaning rasa, tansah sinamung samudana” meaning that in doing all their activities, Javanese people often uses their feeling and disguise their activities. Purwadi menunjukkan bahwa dalam konteks kehidupan Jawa, ada pepatah lama yang mengatakan: "wong DKI nggone semu, papaning rasa, tansah sinamung samudana" yang berarti bahwa dalam melakukan semua kegiatan mereka, orang Jawa sering menggunakan perasaan mereka dan menyamarkan kegiatan mereka.

Those symbols are the illustrations of their abstract, complicated, and wingit attitudes, colloquialisms, and behaviors… These cultural symbols are used to reflect transcendental idea, emotion, and thought (Purwadi, 2004 : 81). Mereka simbol adalah mereka ilustrasi abstrak, rumit, dan wingit sikap, bahasa sehari-hari, dan perilaku ... simbol-simbol budaya ini digunakan untuk merefleksikan ide transendental, emosi, dan berpikir (Purwadi, 2004: 81).

The number of people living in Melikan village based on the village's monograph up to October 2005 were 3,512, consisting of 1,695 males and 1,817 females, and 691 patriarchs. Jumlah orang yang tinggal di desa Melikan berdasarkan monografi desa sampai dengan Oktober 2005 sebanyak 3.512, terdiri dari 1.695 pria dan 1.817 perempuan, dan 691 tetua.

The occupations of community inhabiting Melikan Village which consist of 7 hamlets are various. Pekerjaan masyarakat yang mendiami Desa Melikan yang terdiri dari 7 dusun yang beragam. However, most of them work as earthenware craftsmen. Namun, sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pengrajin gerabah. The rests are farmers, merchant, and public employees. Yang terletak adalah petani, pedagang, dan pegawai publik.

One of specific characteristics of social community of Melikan Village is prioritizing the kinship interaction which is reflected in the pattern of community's relationship, such as mutual assistance, working together, and visiting one each other. Salah satu karakteristik yang spesifik dari komunitas sosial Desa Melikan memprioritaskan interaksi kekerabatan yang tercermin dalam pola hubungan masyarakat, seperti gotong-royong, bekerja bersama, dan mengunjungi satu sama lain.

Small industries which are developed in Melikan Village are water-channel, digging well, brick, ceramic, earthenware, wood and bamboo furniture, and tofu and tempe. Industri kecil yang berkembang di Desa Melikan adalah air-saluran, menggali sumur, batu bata, keramik, tanah liat, kayu dan mebel bambu, dan tahu dan tempe. Earthenware, terracotta, and glazed porcelain industry is well known among common people that also makes Melikan Village, Wedi Subdistrict, Klaten Regency becomes famous. Tembikar, terakota, dan industri porselen mengkilap terkenal di kalangan masyarakat umum yang juga membuat Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten menjadi terkenal. Moreover, it is able to penetrate foreign markets, namely Holland, Canada, and Australia. Selain itu, mampu menembus pasar luar negeri, yaitu Belanda, Kanada, dan Australia.

Nowadays, there are 211 business units employing 741 employees. Saat ini, terdapat 211 unit usaha mempekerjakan 741 karyawan. Among those villages, Pager Jurang Hamlet has the highest number of ceramic/earthenware industries in Wedi Subdistrict. Di antara orang-orang desa, Pager Jurang Hamlet memiliki jumlah tertinggi keramik / gerabah industri di Kecamatan Wedi.

Types of Bayat Earthenware Jenis gerabah Bayat
Based on the usage, Melikan ceramic arts can be categorized into two types as follow: Berdasarkan penggunaan, seni keramik Melikan dapat dikategorikan ke dalam dua jenis sebagai berikut:

Traditional household utensils, such as piggy bank, jug, vase, wok (sangon), and anglo (keren). Peralatan rumah tangga tradisional seperti celengan, kendi, vas, wajan (sangon), dan Anglo (keren). The traditional products are still maintained, especially by the existing craftsmen. Produk tradisional masih dipertahankan, terutama oleh pengrajin yang ada.
Ornamental ceramic/earthenware, either for indoor or outdoor ornaments. Hias keramik / tembikar, baik untuk dalam maupun luar ruangan ornamen. There are hundred types of items belong to this type; however, they can be classified as souvenir, flower vase, vase (water container), gucci (porcelain earthenware), and garden bench and table. Ada ratusan jenis item milik jenis ini, namun mereka dapat diklasifikasikan sebagai souvenir, vas bunga, vas (wadah air), gucci (porselin tanah liat), dan kebun bangku dan meja.


0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Wikimapia Rowo Jombor

Pengikut

Wikimapia Krakitan

Bookmark and Share