#footer-column-container { clear:both; } .footer-column { padding: 10px; } .quickedit{ display:none; }

ONLINE-UJIAN SENI BUDAYA ESTIB

Minggu, 22 Juni 2014

Cinta Bersemi Di Batik Kayu-Feature Terbaik-Estib-SMPN 3 Bayat Klaten



Feature Lima terbaik yang berjudul "Cinta Bersemi di Batik Kayu" karya Asim Sulistyo, dalam ajang lomba penulisan Feature yang diadakan Yayasan Pangudi Luhur Bayat, Klaten pada bulan Mei 2014 di SMP Pangudi Luhur Bayat, Klaten Jawa-Tengah.

 CINTA BERSEMI DI BATIK KAYU
Kerajinan batik tekstil merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat kabupaten Klaten, baik jenis batik tulis maupun batik cap. Ada beberapa desa yang merupakan sentra kerajinan batik terutama daerah-daerah pedesaan, seperti desa Jarum, desa Gununggajah, desa Krakitan dan desa Kebon.

Dari sejumlah desa penghasil kerajinan batik, desa Jarum merupakan sentra kerajinan batik yang paling tersohor di seluruh nusantara bahkan sampai ke manca negara. Yang menjadi andalan batik Jarum adalah bahan pewarnaan. Pada umumnya batik menggunakan pewarna sintetis, namun mulai tahun 2000 batik Jarum menggunakan pewarna alami yang  diambil dari getah tumbuhan-tumbuhan seperti akar rumput, kulit kayu nangka, kulit kayu mahoni dan daun jati.

Masyarakat Jarum menggantungkan hidupnya dengan kerajinan batik, baik sebagai pengusaha maupun sebagai tenaga kerja. Pemasaran cukup dikampung sendiri dengan merubah rumah tinggal menjadi sebuah butiq, seperti Batik Sarwidi, Batik Sekar Mawar, Batik Putri kawung, Batik Nardo dan Batik Purwanti.  Setiap hari banyak wisatawan berkunjung untuk berbelanja atau sekedar mencari hiburan melihat-lihat batik alami dan cara membuatnya.

Seiring perkembangan jaman, Sunardi putranya Purwanti mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Selepas SMA Negeri 1 Bayat, tahun 2001 Sunardi kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta Jurusan Ekonomi Akuntansi.

Disela-sela kesibukan kuliah, Sunardi pergi ke kantor Pos Pusat Yogyakarta untuk mengirim surat kepada Sri Rahayu. Gadis pujaannya semasa di SMA yang sedang bekerja di perusahaan garmen di Bekasi. Sudah hampir dua tahun tidak ketemu, rasa kangen cukup mengganggu konsentrasi dalam belajarnya. Tujuh kali Sunardi berkirim surat, tak satupun yang dibalas.

Kenangan semasa SMA tidak bisa dia lupakan, walaupun teman kuliah banyak gadis yang tidak kalah cantiknya. Di hati Sunardi hanyalah keluguan dan ketulusan Sri Rahayu, gadis dari desa Paseban, anaknya Sadinem penjual intip goreng di komplek Makam Sunan Tembayat.

Setelah berkirim surat yang ke delapan, harap-harap cemas Sunardi pulang dengan langkah gontai menyusuri jalan Malioboro. Sebisa mungkin menghibur diri dengan melihat barang-barang kerajinan yang di jajakan di sepanjang jalan. Berhenti sejenak di ujung jalan Malioboro dekat palang pintu rel kereta api stasiun Tugu. Lima menit kemudian balik lagi, penasaran dengan gelang kayu.

Walaupun tidak  bermaksud membeli, dorongan hatinya ingin tau lebih dalam “ bagaimana cara menghias gelang kayu ini Pak”, tanya Sunardi.  “Di batik Mas” jawab Suwito pedagang kaki lima.

Terpaksa Sunardi membeli satu gelang dengan harga lima ribu rupiah. Sesampai di rumah, tak sabar untuk segera menunjukan kepada ibunya oleh-oleh yang dia beli. Selepas makan malam, terjadilah obrolan Sunardi dan ibunya membahas batik kayu. Ibunya sangat antusias,  karena di desa Jarum hanya ada batik tekstil seperti usahanya.

Di akhir pembicaraan, Sunardi mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pengrajin batik kayu dan ibunya mengijinkan. Seminggu kemudian Sunardi ke Malioboro mencari informasi alamat pengrajinnya dan berniat untuk belajar membuat batik kayu.

Di desa Banguntapan kabupaten Bantul, tempat tinggal Sutikno pengrajin batik kayu. Sunardi menemuinya dan mengutarakan keinginannya, Sutikno mengijinkan. Dalam waktu tiga minggu, semua cara dan tehnik membatik dia kuasai dengan mahir. Keasyikan dalam mempelajari batik kayu inilah, hati sunardi tidak lagi galau memikirkan gadis pujaannya.

Walaupun belum lulus kuliah, setiap hari minggu Sunardi mengumpulkan pemuda desa Jarum tanpa membedakan tingkat sosial dan agama. Suranto, Haryanto, Slamet dan Sularto yang tekun belajar membuat batik kayu. Awal pembelajaran tidak luput dari hinaan dan cercaan masyarakat, dengan semangat dan dukungan ibunya, Sunardi bersama teman-temannya pantang menyerah.
Tiga bulan berikutnya, mulai memproduksi batik kayu secara bersama-sama dengan bahan baku yang diambil tidak jauh dari lingkungannya, seperti kayu mahoni, kayu jati, bambu dan kayu sengon dengan pewarna batik alami. Hasil produksi berupa gelang, cincin, sandal, nampan, tempat tisu dan asbak.

Seminggu sekali sambil berangkat kuliah, Sunardi memasarkan dengan cara dititipkan pada pedagang kaki lima di Malioboro dan di komplek Makam Pandanaran serta dia pasarkan lewat dunia maya. Sedikit untung cukup menghibur Sunardi dan teman-temannya. Produksi makin besar, pesanan bermunculan dari berbagai daerah, khususnya gelang kayu sebagai cenderamata  tamu undangan pada acara pernikahan.

Tahun 2005 teman-teman Sunardi mulai membuka usaha sendiri-sendiri. Sularto cukup sukses dengan dibantu tiga karyawan. Sebulan penghasilannya mencapai  lima juta rupiah.  Hasil produksinya mampu menembus Jepang, Australia dan Amerika.

Sepulang dari Wisuda tahun 2006, di depan kantor kecamatan Bayat Sunardi dan ibunya melihat tujuh anak SD Negeri 1 Bayat memakai gelang kayu batik Jarum. “gelang itu beli dimana Dik”, Tanya Sunardi. “di Malioboro waktu Piknik Mas”, jawab anak-anak serentak. Sunardi terkesima dan geli, hasil karyanya dipakai anak-anak Bayat yang mereka beli dari  Malioboro.

Sunardi sendiri tidak kalah sukses, tahun 2007  terpilih mewakili pemuda kreatif Klaten untuk ikut ajang pameran kerajinan di Jakarta. Dengan tidak disengaja, Sunardi ketemu gadis  pujaannya kembali. Ketika Sri Rahayu jalan-jalan di lapangan parkir timur Gelora Bung Karno tempat ajang pameran kerajinan seluruh Indonesia. Saat bertatap muka saling menyapa, teringat masa lalu dan rasa cinta kembali bersemi. Selesai pameran, Sri Rahayu diajak pulang kampung, sebulan berikutnya pernikahan dilangsungkan. Semua tamu undangan di kasih cenderamata berupa gelang kayu batik bertuliskan “Sunardi Sri Rahayu”.
(Penulis : Asim Sulistyo) 
 

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Wikimapia Rowo Jombor

Pengikut

Wikimapia Krakitan

Bookmark and Share