#footer-column-container { clear:both; } .footer-column { padding: 10px; } .quickedit{ display:none; }

ONLINE-UJIAN SENI BUDAYA ESTIB

Selasa, 25 Oktober 2011

Masalah Jiplak Lagu atau Plagiat Lagu

Dulu, ada lagu Barat dinyanyikan oleh Elvis Presley berjudul “Can't Help Fallin in Love with You” (CHFLY). Kemudian lagu itu dipopulerkan kembali oleh Julio Iglesias. Lagu tersebut pantas terkenal, selain lagunya memang indah, pesan syairnya juga indah, penyanyinya pun bagus. Jadilah lagu tersebut sebagai lagu yang abadi dikenang selamanya.

Di Indonesia lagu tersebut juga dikenal sepanjang masa, bahkan menjadi lebih terkenal karena sebaris melodinya (satu motive) persis sama dengan bagian lagu Indonesia BAGIMU NEGRI (BN). Bagian akhir dari lagu CHFLY yang bunyi syairnya “Fallin in Love With You” sering diplesetkan menjadi “Jiwa Raga Kami”. (Bagian akhir dari lagu BN). Motive adalah rangkaian nada–nada yang terkelompok sekitar dua birama/bar.

Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang menjiplak?

Koesbini pencipta BN atau pencipta CHFLY? BN ditulis Koesbini tahun 1944, sementara CHFLY sekitar akhir tahun 1950-an atau awal 1960-an. Kalau melihat fakta ini tentu bukan Koesbini yang menjiplak. Tapi BN apa juga beredar di Amerika Serikat negerinya Elvis Presley, sehingga mengilhami penciptaan CHFLY?

Saya berkeyakinan kesamaan lagu antara BN dan CHFLY adalah hanya kesamaan ide. Peristiwa itu memang mungkin dan bisa saja terjadi. Jadi dalam kasus ini tidak ada yang menjiplak.

Lalu seperti apa yang dikategorikan menjiplak itu?

Berikut ini saya kutipkan perumusan penjiplakan yang dibuat oleh Indonesian Composers and Arragers Assosiation:

1. Motif dan karakter sama dengan motif dan karakter komposisi musik/lagu yang sudah ada, dan/atau:

2. Temanya sama dengan tema komposisi musik/lagu yang sudah ada/diumumkan, dan /atau:

3. Struktur melodinya mengandung lebih dari 10% secara berturut-turut melodi asli komposisi musik/lagu yang sudah ada/diumumkan dan atau:

4. Mempunyai kesamaan lebih dari 10% jumlah ruas secara berturut turut dari komposisi musik/lagu yang sudah ada/diumumkan, dan/atau:

5. Liriknya lebih 10% secara berturut turut sama dengan lirik komposisi musik/lagu yang sudah ada.

Kelima rumusan tadi sama sekali tak menampung dan tak mentoleransi “kesamaan ide” seperti yang saya contohkan di atas, yaitu antara lagu BN dengan CHFLY. Saya pribadi kurang setuju dengan rumusan tadi.

Menurut pendapat saya, ada empat macam peristiwa yang bisa terjadi sehingga mengakibatkan sebuah ciptaan bisa sama.

Yang pertama adalah “kesamaan ide”. Contohnya kasus BN dengan CHFLY itu tadi. Contoh yang lain adalah lagu Dari Sabang Sampai Merauke (DSSM); frase pertamanya mempunyai kesamaan dengan Frase pertama dari lagu Marseille/Marseillaise (lagu kebangsaan Prancis).

Pada frase pertama DSSM--yang syairnya “Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau pulau”--95% sama dengan Marseille. Perbedaannya hanya pada akhir frase. Di DSSM progresi chordnya I - V – I, sedangkan di Marseille progresi chordnya II – V – I. Lagu Marseille diciptakan oleh Claude Joseph Rouget de Lisle pada 1892 tentu jauh lebih tua dari DSSM yang ditulis oleh Soeraryo di awal kemerdekaan.

Tapi apa Soeraryo menjiplak dari lagu tersebut? Perlu ada kajian yang lebih dalam. Saya pribadi meyakini hal tersebut sebagai “kesamaan ide” belaka. Kasus lain “kesamaan ide” adalah Lagu SEPHIA dari Sheila on Seven dengan lagu BEGADANG-nya Rhoma Irama. Perhatikan syair “Slamat Tidur Kekasih Gelapku…..” bandingkan dengan “Begadang Jangan Begadang …”

Kedua bagian dari lagu tersebut mempunyai karakter yang sama.

Yang kedua, “terilhami oleh sebuah ciptaan yang lebih dulu ada”. Contoh kasusnya, lagu SURAT UNDANGAN (SU) ciptaan Yules Fiole dengan I’ll Be There (IBT) yang dinyanyikan Michael Jackson. Kedua lagu tersebut mempunyai progresi chord yang sama dan pola melodi yang sama pula. Awam pun segera bisa tahu dan merasakan kesamaan pada kedua lagu tersebut.

Jadi, apakah IBT menjiplak SU?

Kalau dilihat saat diciptakan, SU lebih dulu tercipta, yaitu di awal tahun 1960-an, sementara IBT diciptakan di awal tahun 1970-an. Persoalannya kemudian adalah apakah pencipta IBT pernah mendengar lagu SU? Ini mengingat penciptaan IBT di Amerika Serikat, sementara SU diciptakan di Indonesia dan pada saat itu komunikasi lewat dunia maya tak segencar saat ini, atau malahan belum dikenal.

Jawabannya kemudian:

Jauh sebelum terciptanya kedua lagu tersebut adalah Carl Czerny (1791--1857), komponis dan pianis berkebangsaan Austria, yang banyak membuat nomor-nomor untuk studi piano. Salah satunya adalah Studi Piano Czerny Opus 299 Nomor 7 yang ternyata baik progresi chord maupun melodinya sangat mirip dengan lagu SU dan IBT tadi.

Buku-buku Studi piano Czerny tersebar keseluruh dunia (termasuk Indonesia) dan menjadi acuan murid–murid piano sampai sekarang.

Saya menduga kedua pencipta lagu SU dan IBT pernah belajar buku-buku studi piano Carl Czerny tersebut. Pola melodi dari Czerny yang indah itu tampaknya mengendap dalam ingatan alam bawah sadar mereka, yang kemudian muncul dan menjadi lagu SU dan IBT. Bahkan, kalau kita amati dan rasakan lebih jauh lagu SAAT TERAKHIR-nya ST 12 atau MUNAJAT CINTAnya Dhani Dewa pun terinspirasi dari sana.

Lalu, coba amati lagu O INANI KEKE (lagu daerah Minahasa) bandingkan dengan pola melodi IBU KITA KARTINI (WR Soepratman). Kita akan mendapati enam birama yang mempunyai kemiripan melodi satu sama lain. (Tambahan informasi: dalam satu bait terdapat umumnya delapan birama)

Ada banyak kasus-kasus semacam itu. Contoh: lagu anak anak “Bangun-bangun hari sudah siang....” sangat mirip dengan lagu JOYOUS FARMER (HAPPY FARMER) ciptaan komponis Jerman zaman romantik Robert Schumann (1810-1856). Begitu pula SONATINE Hob XVI no 35 ciptaan Franz Joseph Haydn (1732-1809) mempunyai kemiripan dengan lagu anak “Di puncak pohon kayu yang rindang dua burung bersenang-senang...."

Mirip dengan kasus IBT dan SU adalah kasus lagu dangdut, SMS. Beberapa tahun yang lalu terkenal di masyarakat lagu SMS (Short Massage Service). "Bang SMS siapa dirinya...." Lagu tersebut kemudian menjadi polemik di kalangan musisi dangdut karena dianggap mirip, bahkan sama dengan lagu India yang lebih dulu ada.

Saya tertarik mengikuti polemik itu. Dan ketika saya putar lagu SMS ternyata SMS sama persis dengan Symphony Nomor 9-nya Beethoven (Ode to the Joy: Alle Menschen werder Bruder). Nah, kalau mengingat simfoni tersebut ditulis oleh Beethoven tahun 1824 pasti baik SMS maupun si India itu terinspirasi dari Beethoven.
Yang ketiga: ada unsur kesengajaan mengganti syair lagu yang sudah ada dengan syair yang baru.

Contoh: Tahun 1950-an di kalangan musisi Indonesia ada semangat memperkenalkan lagu-lagu daerah ke tingkat nasional. Ada Oslan Husein yang memperkenalkan lagu-lagu Sumatra Barat, Grup Rindang Banua memperkenalkan lagu-lagu Kalimantan, Onny Suryono lagu Jawa, Mus DS yang memperkenalkan lagu Sunda, Djajadi Djamain memperkenalkan lagu-lagu daerah Makasar.

Salah satu lagu daerah yang terkenal waktu itu adalah lagu berbahasa Sunda berjudul PANON HIDEUNG (Mata Hitam). Lagu tersebut bagus, aransemen musiknya digarap dengan bagus juga. Dan mejadi hit waktu itu. Tapi kemudian diketahui lagu tersebut bukan ditulis oleh komponis Indonesia, karena sebelum 1936 sudah ada lagu tersebut dan sudah disiarkan oleh Radio NIROM yang dinyanyikan dalam bahasa aslinya Tsigana (Zigeuner/Gipsi), berjudul lagunya OTCI CHORNIA (yang artinya juga sama : Mata Hitam).

Dan ternyata lagu OTCI CHORNIA banyak diterjemakan dalam versi bahasa-bahasa yang bermacam macam. Di Jerman judul lagunya SCHWARZE AUGEN (mata hitam) juga di negara-negara berbahasa Inggris dengan judul BLACK EYES.
Contoh lain: lagu SEPATU KACA yang dinyanyikan Ira Maya Sopha diambil dari lagu Amerika Latin LA CUCARACHA. Yang lain lagi lagu KOPI DANGDUT ternyata diambil dari lagu latin MOLIENDO CAFE.

Yang keempat: kesamaan progressive chord.

Pengertiannya adalah pergerakan/putaran chord (istilah Mus Mualim: circle chord) yang sama persis antara satu lagu dengan lagu yang lain, walau melodi bisa berbeda. Contoh yang umum pergerakan chord I - VIm - F - G, pergerakan semacam itu banyak dipakai oleh komposer dalam mencipta lagunya. Tetapi karena progresi chord semacam itu sudah lazim dipakai, maka semuanya menjadi wajar dan terbiasa.

Contoh lain: lagu LOVE STORY dari Francis Lay progressive chord-nya sama dengan ROMI DAN JULIE-nya Idris Sardi. Ada sekitar delapan birama dari kedua lagu tersebut mempunyai kesamaan chord.

KESIMPULAN:

Tidak semua lagu/komposisi yang mempunyai kesamaan melodi atau chord sebagai menjiplak. Tidak semudah itu memvonis sebuah ciptaan sebagai jiplakan. Perlu dicari asal muasal penciptaan.

Perlu penelitian lebih jauh, kajian yang lebih mendalam “siapa menjiplak siapa, siapa menjiplak apa”. Sebab, begitu seorang komponis dicap sebagai penjiplak, maka nama dan harga dirinya akan jatuh, tak dihormati lagi. Meminjam istilah para politisi: “akan terjadi character assasination”.

Oleh M. ISFANHARI
Komposer, Dosen Universitas Negeri Surabaya

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah sebagai tanda persahabatan.

 

Wikimapia Rowo Jombor

Pengikut

Wikimapia Krakitan

Bookmark and Share